kunjungan industri RPL

kunjungan industri RPL
klas 2

Kamis, 24 Januari 2013

sejarah banjir di jakarta

Indonesia berduka, Kota Jakarta menjadi sorotan publik akibat bencana banjir yang menimpa sejak seminggu lalu. Kabar duka ini menjadi cobaan bagi Indonesia, terutama bagi masyarakat Jakarta dan juga Pemerintahan DKI Jakarta yang baru saja berjalan 100 hari. Pentingnya kita sebagai warga negara mengetahui dan dapat berpartisipasi untuk membangkitkan kembali kota Jakarta. Sebelumnya dibawah ini akan dibahas mengenai geografi, iklim dan sejarah Kota Jakarta.
Geografi dan Iklim Kota Jakarta
Jakarta merupakan wilayah dataran rendah seluas 650 km2. Ketinggian tanah diukur di titik nol Tanjung Priok dari pantai sampai ke kanal banjir berkisar antara 0 m - 10 m di atas permukaan laut. Sedangkan dari batas paling selatan wilayah DKI kanal banjir berkisar antara 5 m - 50 m di atas permukaan laut. Daerah pantai merupakan daerah rawa atau daerah yang selalu tergenang air pada musim hujan. Di daerah bagian selatan kanal banjir terdapat perbukitan rendah dengan ketinggian antara 50 m sampai 75 m.
Dari aspek iklim, wilayah DKI Jakarta termasuk tipe iklim C dan D yang menurut klasifikasi iklim Schmit Ferguson dengan curah hujan rata-rata sepanjang tahun 2000 mm. Wilayah DKI Jakarta termasuk daerah tropis beriklim panas dengan suhu rata-rata per tahun 27OC dengan kelembaban antara 80% - 90% . Temperatur tahunan maksimum 32OC dan minimum 22OC. Kecepatan angin rata-rata 11,2 km/jam.
Sejarah Kota Jakarta
Jakarta dibangun oleh Jan Pieters Z. Coen di awal abad ke 17 dengan konsep kota air (waterfront city) yang rentan mengalami banjir bahkan sejak awal didirikan. Menurut catatan sejarah, Jakarta mengalami bencana banjir sejak tahun 1621. Salah satu bencana banjir terparah terjadi pada bulan Februari 1918. Saat itu hampir sebagian besar wilayah terendam air. Daerah yang terparah adalah Gunung Sahari, Kampung Tambora, Suteng, Kampung Klenteng akibat jebolnya bendungan Kali Grogol.
Perlu kita sadari bahwa Jakarta identik dengan julukan kota banjir karena bencana ini menjadi agenda pada setiap tahun. Sampai tahun ini, belum ada penanggulangan dan pengelolaan untuk mengatasinya. Alangkah baiknya kita melakukan pencegahan daripada melakukan penanganan pasca banjir. Pertama-tama, mari menganalisis penyebab dari agenda tahunan Kota Jakarta.
11. Kepadatan Penduduk
Jakarta sebagai ibukota menjadi sebuah kota impian dan kota tujuan urbanisasi. Walaupun pada kenyataannya lapangan pekerjaan di Jakarta tidak sebanding dengan peminatnya. Hal ini mengakibatkan semakin padatnya penduduk di Jakarta.
2. . Sampah
Berkaitan dengan kepadatan penduduk. Masalah sampah yang setiap harinya akan bertambah tidak didukung dengan adanya pengelolaan sampah yang efektif. Sehingga sampah semakin menumpuk. Terutama pada kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan membuangnya ke sungai. Tentunya, ketika hujan akan mengakibatkan sampah meluap.
3. . Curah hujan yang tinggi
Seiring dengan kemajuan globalisasi, kebiasaan masyarakat yang semakin bersifat modern dapat menyumbang terjadinya global warming yang mengakibatkan perubahan iklim dan cuaca. Salah satunya adalah curah hujan yang tinggi dan musim yang tidak menentu.
4. . Pecahnya Bendungan Sungai dan Serapan Air yang buruk
Akibat faktor-faktor diatas, bandungan sungai tidak dapat menampung air yang lebih banyak sehingga air dapat meluap dan mengakibatkan pecahnya bendungan sungai. Selain itu, karena perkembangan infrastruktur dan industri yang tidak terkendali mengakibatkan hilangnya cadangan air di Jakarta dan hilangnya lahan untuk serapan air hujan.
5. Saluran air yang belum sesuai kebutuhan
Belum adanya pengembangan saluran air yang mengalirkan air kembali ke laut yang mengakibatkan air melimpah di sungai kota.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penyebab dari banjir Jakarta tidak bisa dititik beratkan akibat aspek geografi dan curah hujan Kota Jakarta saja. Tetapi, hal-hal yang bersifat intervensi dari manusia yang dapat mengganggu alam merupakan faktor besar yang dapat menyebabkan bencana banjir
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum : 41)

tanah di P. jawa menurun

VIVAnews - Badan Geologi Departemen Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) menyatakan, akibat pengambilan air tanah berlebihan, permukaan tanah di beberapa wilayah di Pulau Jawa setiap tahunnya mengalami penurunan antara 5-9 cm. Daerah tersebut yakni Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Semarang.

Kepala Pusat Lingkungan Badan Geologi ESDM Damaryanto mengatakan, berdasarkan hasil penilitian selama 40 tahun, empat daerah di Pulau Jawa terus mengalami penurunan sehingga menimbulkan cekungan tanah.

"Bila musim hujan tiba, daerah tersebut sangat berpotensi terjadi banjir karena datarannya semakin rendah," ujar Damaryanto usai rapat geologi di Hotel Horison, Bandung, Jumat 12 Desember 2008.

Dia menambahkan, penggunaan air tanah yang berlebihan menimbulkan pergesaran lempengen material tanah hingga menyebabkan terjadinya amblasan. Selain itu kondisi tanah diempat daerah tersebut masih muda dan kerap terjadi pemampetan secara alami.

Di Bandung penurunan tanah, diakibatkan pula adanya Danau Purba. Oleh karena itu untuk mengantisipasi meluasnya  penurunan tanah, kini pihaknya tengah gencar melakukan pembatasan penggunaan air tanah secara besar-besaran.

"Kami melarang siapapun untuk mengambil air dibawah 200 meter dari sumber mata air," katanya. Bahkan penggunaan air tanah dengan menggunakan sumur bor, hanya diperbolehkan 100 meter kubik perharinya. meeting biologi di hotel horison.

antisipasi gempa bumi

PPC Indonesia


Sebelum Terjadi Gempabumi


A. Kunci Utama adalah..


Mengenali apa yang disebut gempabumi Pastikan bahwa struktur dan letak rumah Anda dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempabumi (longsor, liquefaction
, dll.) Mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur bangunan Anda agar terhindar dari bahaya gempabumi.
[imagetag]




B. Kenali Lingkungan Tempat Anda Bekerja Atau Belajar


Perhatikan letak pintu, lift serta tangga darurat, apabila terjadi gempabumi, sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung.


Belajar melakukan P3K


Belajar menggunakan alat pemadam kebakaran


Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempabumi.
[imagetag]

C. Persiapan Rutin pada tempat Anda bekerja dan tinggal


Perabotan (lemari, cabinet, dll) diatur menempel pada dinding (dipaku, diikat, dll) untuk menghindari jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempabumi.


Simpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran.


Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila tidak sedang digunakan.
[imagetag]

D. Penyebab celaka yang paling banyak pada saat gempabumi adalah akibat kejatuhan material


Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah


Cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gempabumi terjadi (misalnya lampu dll)
[imagetag]

E. Alat yang harus ada di setiap tempat


Kotak P3K

Senter/lampu battery

Radio

Makanan suplemen dan air
[imagetag]





Saat Terjadi Gempabumi


A. Jika Anda berada di dalam bangunan


Lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dll.


Cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan


Lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

Dan usahakan agar jangan panik.
[imagetag]

B. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka


Menghindar dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon, dll

Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.
[imagetag]

C. Jika Anda sedang mengendarai mobil


Keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran. Lakukan point B.
[imagetag]

D. Jika Anda tinggal atau berada di pantai


Jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami. Usahakan lari ke tempat yang lebih tinggi,seperti ke bukit atau gunung.
[imagetag]

E. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan 


Apabila terjadi gempabumi, hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
[imagetag]






Setelah Terjadi Gempabumi

A. Jika Anda berada di dalam bangunan


Keluar dari bangunan tersebut dengan tertib.


Jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa. [tangga emergency]


Periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K.


Telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau sekitar Anda.
[imagetag]

B. Periksa lingkungan sekitar Anda 


Periksa apabila terjadi kebakaran.


Periksa apabila terjadi kebocoran gas.


Periksa apabila terjadi hubungan arus pendek listrik.


Periksa aliran dan pipa air.


Periksa apabila ada hal-hal yang membahayakan (mematikan listrik, tidak menyalakan api, dll)
[imagetag]

C. Jangan mamasuki bangunan yang sudah terkena gempa 


karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan.
[imagetag]

D. Jangan berjalan di sekitar bangunan,atau tiang listrik


Karena kemungkinan terjadi bahaya susulan masih ada.
[imagetag]

E. Mendengarkan informasi.


Dengarkan informasi mengenai gempabumi dari radio (apabila terjadi gempa susulan).


Jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.
[imagetag]

F. Jangan panik dan jangan lupa selalu berdo'a kepada Tuhan YME demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.

pemanasan Global

Pemanasan global (Inggris: global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca


Penyebab pemanasan global

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembapan relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[3]
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.[5]

Variasi Matahari

Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,[7] yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.[8][9]
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuwan dari Duke University memperkirakan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.[10] Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.[11] Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuwan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.[12][13] Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.[14]

kebersihan air

Air, Sanitasi & Kebersihan

© UNICEF Indonesia/2007/Purnomo
Bagian-bagian utama dari kegiatan dan program UNICEF di Indonesia mencakup penanganan kualitas air yang tidak memadai, cakupan sanitasi yang rendah dan kebersihan yang kurang. Bidang itu menjadi tantangan-tantangan karena memiliki dampak pada kesehatan, gizi, pencapaian pendidikan anak dan keluarga.
Kami mendukung prakarsa yang memungkinkan masyarakat untuk memainkan peran penting dalam mengembangkan dan mengelola ‘sanitasi total berbasis masyarakat’ yakni ketika lima pilar utama sanitasi ditangani dan dicermati secara memadai: penghentian buang air besar secara sembarangan, promosi cuci tangan pakai sabun, peningkatan pengolahan air rumah tangga, pengelolaan sampah padat dan pengelolaan limbah cair dan saluran pembuangan secara tepat.
Bagian utama dari kegiatan UNICEF di Indonesia adalah penanganan cakupan sanitasi yang rendah dan kebersihan yang kurang
UNICEF bekerja dengan pemerintah daerah dan komunitas setempat untuk mengembangkan model praktek terbaik untuk program sanitasi masyarakat, berbagi keahlian dan mengembangkan kapasitas untuk melaksanakan lima pilar dan kemudian membantu masyarakat untuk mendapatkan dan memanfaatkan pengalaman mereka dan menyebarluaskan pengalaman tersebut dengan masyarakat lainnya.
UNICEF juga memberikan bantuan teknis kepada pemerintah untuk mengembangkan kebijakan air dan sanitasi yang lebih baik di daerah perkotaan, di mana jumlah penduduk yang meningkat dan sumber daya pemerintah yang semakin terbagi membuat tertekannya penempatan sumber daya pada sarana dan prasarana.
Mengetahui bahwa anak dapat berperan sangat efektif dalam mengubah perilaku masyarakat mereka yang lebih luas, kami juga mendukung prakarsa kebersihan dan sanitasi berbasis sekolah melalui pemberian panduan tentang bagaimana meningkatkan fasilitas dan sarana sanitasi di sekolah, dan mengembangkan serta melaksanakan promosi kebersihan yang efektif di kelas-kelas. Ini tidak hanya membantu mempromosikan kebersihan yang baik dan arti penting sanitasi yang tepat di suatu komunitas, namun juga meningkatkan lingkungan fisik pembelajaran sehingga anak didorong untuk bersekolah dan berprestasi lebih baik di sekolah.
http://www.unicef.org/indonesia/id/wes.html

analisis dampak lingkungan

Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi atau telaah secarah cermat tentang dampak penting suatu kagiatan yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan terhadap kegiatan atau proyek yang akan dilaksanakan, sedangkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah keseluruhan dari hsil studi yang disusun secara sistematis dan merupakan satu kesatuan dalam bentuk dokumentasi yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan.
Mr.bondez(668)
Dengan adanya AMDAL pengambil keputusan mencoba melihat :
  1. Apakah ada dampak pada kualitas lingkungan hidup yang melampaui batas toleransi yang sudah ditetapkan
  2. Apakah dalam menimbulkan dampak pada proyek lain atau kegiatan lain sehingga dapat menimbulkan komplik
  3. Apakah akan menimbulkan dampak negatif yang tidak dapat ditoleransi serta membahayakan keselamatan masyarakat
  4. sejauhmana pengaruhnya pada pengelolaan lingkungan yang lebih luas.
Suatu rencana kegiatan dapat dinyatakan tidak layak lingkungan, jika berdasarkan hasil kajian AMDAL, dampak negatif yang timbulkannya tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Demikian juga, jika biaya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif lebih besar daripada manfaat dari dampak positif yang akan ditimbulkan, maka rencana kegiatan tersebut dinyatakan tidak layak lingkungan. Suatu rencana kegiatan yang diputuskan tidak layak lingkungan tidak dapat dilanjutkan pembangunannya.

Kesadaran lingkungan

PEMBANGUNAN yang dilakukan dengan mengabaikan pertimbangan keselamatan lingkungan dan generasi mendatang hanya akan menghasilkan pembangunan yang merusak.
Pembangunan yang dilakukan hanya untuk meraih pertumbuhan ekonomi semata-mata akan lebih banyak menghasilkan keserakahan yang membawa bencana daripada manfaat untuk umat manusia.
Ini merupakan kesalahan yang tidak pernah diperhitungkan para pelaku ekonomi yang rakus. Padahal, jelas bahwa peningkatan kesejahteraan dalam paradigma pertumbuhan ekonomi akan melahirkan sesuatu yang pasti: kerusakan lingkungan.
Keberhasilan paradigma pertumbuhan ekonomi dalam meningkatkan kesejahteraan kerap harus dicapai melalui pengorbanan yang berupa deteriorasi ekologis baik yang berwujud soil depletion, penyusutan nonrenewable resources maupun desertifikasi.
Ternyata upaya mewujudkan pembangunan ekonomi bukannya tanpa pengorbanan yang membahayakan. Berbagai kasus terakhir menunjukkan begitu sering masyarakat kecil di sekitar kawasan pegunungan (dataran rendah) menjadi amukan badai banjir lumpur akibat resapan yang sudah tidak lagi memadai.
Sikap Gereja
Atas dasar itu, perhatian terhadap keselamatan lingkungan dan menanamkan sejak dini kesadaran lingkungan sangat perlu dilakukan.
Hal itu yang dilakukan dalam sidang para uskup dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan menegaskan kembali komitmen Gereja Katolik untuk terlibat dan bertanggung jawab dalam penyelamatan lingkungan hidup. KWI menyatakan keprihatinan atas kerusakan lingkungan hidup yang makin parah dewasa ini.
Pesan pastoral tentang lingkungan tersebut ditandatangani Ketua Presidium KWI yang baru Mgr Ignatius Suharyo dan Mgr Johannes Pujasumarta (Sekretaris Jenderal). Pesan pastoral KWI 2012 kali ini menyoroti masalah lingkungan sebagai sebuah penegasan kembali peran Gereja Katolik dalam upaya melestarikan lingkungan.
KWI melihat tata kelola keadaban lingkungan merupakan persoalan besar bangsa ini. Setiap hari kita menyaksikan hutan, bumi serta alam semesta dirusak dan dieksploitasi. Hutan dan sumber daya alam lainnya di kawasan Kalimantan, Sumatera, dan Papua menjadi saksi sebuah tata kelola lingkungan yang tidak menyentuh harkat dan martabat manusia.
Gereja menyadari rusaknya keadaban lingkungan ini sebagai sebuah cermin nilai kemanusiaan yang makin merosot. Berbagai bencana alam terjadi karena seringnya kesalahan cara pandang manusia terhadap alam. Dalam melihat dan memperlakukan alam kita sering menggunakan cara pandang antroposentris. Pandangan antroposentris menempatkan manusia sebagai pusat dari alam, bahkan dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apa pun.
Sejauh ini Gereja sudah lama menaruh keprihatinan atas masalah lingkungan yang berakibat buruk pada manusia. Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio (1967, No 12) sudah mengingatkan semua pihak bahwa masyarakat setempat harus dilindungi dari kerakusan pendatang.
Begitu pula Paus Yohanes II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis (1987, No 34) yang menekankan alam ciptaan sebagai kosmos tidak boleh digunakan semaunya dan pengelolaannya harus tunduk pada tuntunan moral. Dampak pengelolaan yang tidak bermoral tidak hanya dirasakan manusia saat ini, juga generasi mendatang.
Selanjutnya Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Caritas in Veritate (2009, No 48) juga menyadarkan bahwa alam adalah anugerah Allah untuk semua orang. Karenanya harus dikelola secara bertanggung jawab bagi seluruh umat manusia.
Dalam pesan pastoral tahun ini, kepada kalangan pebisnis, KWI berpesan tidak hanya mengejar keuntungan ekonomis, tetapi juga keuntungan sosial. Manfaat sosial itu berupa terpenuhinya hak hidup masyarakat setempat dan adanya jaminan bahwa sumber daya alam akan tetap cukup tersedia untuk generasi yang akan datang.
Gereja berharap gerakan ekopastoral ini menjadi bagian penting untuk memperbaiki sikap manusia terhadap alam. Gereja Katolik Indonesia menaruh perhatian besar pada masalah lingkungan. Gereja melakukan banyak usaha seperti edukasi, advokasi dan negosiasi dalam mengatasi perusakan lingkungan yang masih berlangsung.
Batas Keseimbangan Alam
Alam memiliki batas-batasnya sendiri. Ketidakseimbangan alam yang ditandai dengan berbagai bencana di berbagai tempat menjadi refleksi serius Gereja tahun ini. Gereja menyadari kehancuran lingkungan hidup merupakan buah dari sistem ekonomi yang dijalankan dalam semangat penuh keserakahan.
Tuhan menciptakan alam semesta untuk diolah demi terciptanya kesejahteraan bersama. Alam perlu diolah dan dimanfaatkan dalam batas-batas kewajarannya. Namun, kenyataannya watak rakus penguasa dan pengusaha justru sering mengabaikan keseimbangannya.
Mereka menghabiskan kekayaan alam hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Dampaknya, manusia bukan hanya mudah terkena bencana, melainkan juga karena mereka sedikit demi sedikit mulai terasing dari alam semesta.
Kini manusia mulai kehilangan dayanya untuk mengembalikan alam sesuai dengan keseimbangannya. Alam telah dirusak oleh watak manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri serta generasinya sendiri tanpa memikirkan yang akan datang.
Di negeri ini, begitu jelas batas kewajaran alam sering dirusak pula melalui upaya sistematis kebijakan publik yang hanya berpikir jangka pendek. Negara tak lagi memikirkan untuk apa semua dilakukan kecuali hanya untuk kepentingan politik jangka pendek.
Hutan Indonesia yang menjadi tumpuan dunia untuk bisa bertahan lebih lama semakin hari semakin keropos. Kenyataan ini didukung oleh lemahnya penegakan hukum atas setiap penyelewengan yang terjadi.
Alam tidak lagi bersahabat dengan manusia saat keseimbangannya diluluhlantakkan atas nama pertumbuhan ekonomi.
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi setiap saat, tidak pernah menjadi pengingat yang baik, bahwa hal tersebut terjadi karena satu-satunya alasan yang valid, yakni ketika alam tidak lagi dihargai keseimbangannya. Saat alam diperas kekayaannya hanya untuk kepentingan politik ekonomi kaum tertentu.
Saat ini kita sudah berkali-kali merasakan akibat atas murkanya alam ini. Tapi, kita tidak pernah memahami dengan sungguh-sungguh. Beberapa tahun yang akan datang, dampak yang lebih hebat atas kemurkaan alam ini jelas akan datang bila tidak ada langkah konkret, reflektif dan menyadari sepenuh hati dalam bentuk kebijakan yang berwawasan lingkungan.