kunjungan industri RPL

kunjungan industri RPL
klas 2

Rabu, 27 Maret 2013

Tugas PKN


TUGAS #PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

NAMA: FAISAL KURNIAJI
KELAS :2IB03 NPM: 12411609

B. Pemahaman tentang Bangsa, Negara, Hak dan Kewajiban Warga Negara, Hubungan Warga Negara dengan Negara atas dasar Demokrasi, Hak Asasi Maunusia (HAM), danBela Negara.

1.pengertian dan pemahaman tentang bangsa dan Negara
Bangsa adalah orang orang yg memiliki kesamaan asal keturunan adat, bahsa dan sejarah serta berpemerintahan sendiri.
b. Pengertian dan Pemahaman Negara
a). Negara adalah suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok manusia yg bersama sama mendiami satu wilayah tetentu dan mengakui adanya satu pemerintahan yg mengurus tata tertib serta keselamatan sekelompok manusia tersebut
b). Negara adalah satu perserikaatan yg melaksanakan pemerintahan melalui hokum yg mengikat masyarakat dengan kekuasaan untuk memaksa ketertiban social

2. Unsur Negara
a. bersifat konstitutif. Ini berarti bahwa daam Negara tesebut terdapat wilayah yg meliputi udara,darat dan perairan.
b. Bersifat Deklaratif, sifat ini di tunjukan oleh adanya tujuan Negara,undang undang dasar, pengakauan dari Negara lain baik secara “de jure” maupun “de facto” dan masuknya Negara perhimpunan bangsa bangsa seperti PBB

3. Bentuk Negara
Sebuah Negara dapat berbentuk Negara kesatuan 9 unitary state) dan Negara serikat (federation)
~Struktur Pemerintahan Republik Indonesia
*badan pelaksana Pemerintahan (Eksekutif)
-Pembagian berdasarkan tugas dan fungsi ;
a). Departemen beserta aparat di bawahnya.
b). Lembaga pemerintahan bukan departemen
c). Badan usaha milik Negara
*Pembagian berdasarkan kweilayahan dan tingkat pemerintahan;
a). pemerintah pusat
b). pemerintah wilayah, yg terdiri dari provinsi, daerah khusus ibu kota/ daerah istimewa , kabupaten,


4. Tugas Pokok Pemerintahan Negara RI.

Tugas Pokoknya meliputi; melindungi segenap bangsa Indonesia ,memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yg berdasarkan kemerdekaan ,perdamaian abadi dan keadilan social.

5. Hal Pemerintahan Wilayah

Wilayah di bentuk berdasarkan,, asas dekonsentrasi, wilayah ini di sebut wilayah administrasi yg selanjutnya di sebut wilayah,,Wilayah- wilayah ini di susun secara vertical dan merupakan ingkungan kerja perangkat pemerintahan  yg menyelenggarakan urusan pemerintahan umum di daerah.

6. Hal Pemerinthan Daerah

Daerah di bentuk berdasarkan asas desentralisasi yg selanjutnya di sebut daerah otonomi. Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk memungkinkan daerah yg bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri agar dapat meningkatkannya daya guna dan hasil guna.

C. Pemahaman tentang Demokrasi Indonesia

Demokrasi Indonesia adalah pemerintahan Rakyat yg berdasarkan nilai-nilai falsafah pancasila atau pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat berdasarkan sila-sila Pancasila.  Ini berarti Bahwa;
1.       Demokrasi atau pemerintahan rakyat yg digunakan oleh pemerintah Indonesia adalah system pemerintahan rakyat yg di jiwai dan di tuntun oelh nilai-nilai pandangan hidup bangsa Indonesia.
2.       Demokrasi Indonesia pada dasarnya adalah transformasi nilai-nilai falsafah pancasila menjadi suatu bentuk dan system pemerintahan khas pancasila
3.       Demokrasi Indonesia yg di tuntun oleh nilai-nilai pancasila adalah konsekuensi dari komitmen pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen di bidang pemerintahan atau politik
4.       Pelaksanaan demokrasi Indonesia dengan baik  mensyaratkan pemahaman dan penghayatan  nilai-nilai falsafah pancasila
Pelaksanaan demokrasi Indonesia dengan benar adalah pengamalan pancasila melalui politik pemerintahan

Kamis, 24 Januari 2013

menjaga kebersihan air sungai

Sungai adalah saluran air di permukaan bumi yang terbentuk secara alamiah dan mengalir ke laut. Air sungai bisa berasal dari air hujan (terutama di daerah tropis) dan bisa pula berasal dari es yang mencair di gunung atau pegunungan (terutama di daerah empat musim). Oleh karena itu, debit air sungai bisa sangat dipengaruhi oleh musim. Bagi kita di Indonesia yang berada di daerah tropis, depit air sungai akan tinggi bila musim hujan dan rendah di musim kemarau. Sementara itu, di daerah empat musim, debit aliran sungai meningkat ketika musim dingin berakhir karena salju mencair.
Ada beberapa jenis sungai yang terbagi berdasarkan arah aliran, sumber air, kontinuitas dan struktur geologinya. Beberapa jenis tersebut adalah sungai konsekuen, sungai subsekuen, sungai hujan, sungai gletser, sungai campuran, sungai anteseden, sungai intermiten dan lain-lain.

Setiap daerah di Indonesia, dipastikan dialiri oleh sungai. Kota Medan saja, sedikitnya dilintasi sebanyak sembilan sungai, di antaranya sungai Belawan, sungai Deli, sungai Babura, Sungai Sikambing, sungai Tuntungan, dan lainnya.

Banyak fungsi sungai untuk kehidupan manusia, di antaranya sebagai sumber air rumah tangga, sumber air industri, irigasi, perikanan, sarana transportasi, rekreasi, sedangkan pasir dan batunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

sungai di Medan

Pernahkah melihat air sungai di Medan mengalir jernih, tanpa sampah?

Pada kondisi sekarang ini, tentu ini hal yang mustahil. Karena kondisi sungai yang melintasi Medan pada saat ini sungguh memprihatinkan. Berbagai jenis sampah menumpuk di dalamnya. Sampah tersebut berasal dari masyarakat sekitar sungai, maupun industri rumah tangga. Baunya sangat menyengat, bila musim hujan tiba, dipastikan banjir akan melanda pemukiman sekitar sungai.

Ironisnya, masyarakat sekitar sungai masih menggunakan air sungai sebagai MCK mereka. Hal ini tentu saja sangat rentan terhadap penyakit, terutama penyakit kulit dan diare.

Melihat sungai sangat bermanfaat dalam kehidupan, selayaknya menjaga kelestarian sungai yang ada di sekitar kita. Banyak hal yang dapat dilaksanakan, sebagian di antaranya adalah:

1. Menjaga kelestarian hutan di bagian hulu DAS. Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan mengalir di permukaan bumi dan kemudian masuk ke dalam alur sungai dan mengalir sebagai aliran sungai. Kawasan di permukaan bumi yang bila turun hujan air itu masuk ke suatu aliran sungai tertentu disebut sebagai Daerah Aliran Sungai atau dikenal sebagai DAS. Jadi, besar atau kecilnya debit air sungai, selain ditentukan oleh tingginya curah hujan juga ditentukan oleh luas DAS.

2. Menjaga kelestarian tanah di wilayah pertanian. Bila kondisi tanah di pertanian dalam kondisi baik, maka akan menampung cukup banyak air ketika hujan turun, sehingga tidak semuanya meluap ke sungai. Luapan air di sungai, akan membuat kondisi pinggiran sungai menjadi rusak.

3. Membuat sabuk hijau di sekitar tebing sungai. Sabuk hijau berupa tanaman yang tumbuh di tepi sungai, berfungsi untuk menahan tanah agar tidak erosi. Tidak adanya sabuk hijau di tepi sungai akan mengakibatkan sungai semakin melebar.

4. Tidak membuang limbah ke sungai. Perlu kesadaran dari pemilik sebuah usaha agar tidak membuang limbah industrinya ke dalam sungai. Limbah yang dibuang dipastikan sudah mengandung zat kimia yang akan merusak air dan mahkluk hidup yang berada di dalam air.

5. Tidak membuang sampah ke dalam sungai. Efek buruk dari membuang sampah ke dalam sungai sama saja dengan membuang limbah ke dalamnya. Kesadaran masyarakat kita untuk tidak membuang sampah sembarangan memang masih sangat rendah. Segala sampah ada di dalam sungai. Hal ini harus segera dihentikan. Tumpukan sampah dalam sungai akan mengakibatkan aliran sungai terhambat. Bila curah hujan tinggi, air sungai akan meluap dan mengakibatkan banjir.

6. Pengambilan batu dan pasir tidak berlebihan. Pasir dan batu dalam sungai ibarat lem bagi tanah sungai. Jika diambil secara berlebihan, tanah akan mudah tergerus.

7.Meningkatkan prokasih. Kesadaran memiliki dan mencintai lingkungan merupakan hal yang sangat penting. Rasa memiliki akan membuat kita akan menjaga sungar agar tidak rusak dan tetap terjaga.

Air sungai mengalir jernih, dan sesekali terlihat kecipakan ikan di dalamnya, ditambah dengan desau angin dari celah-celah dahan pohon yang tumbuh di sekitarnya adalah impian semua orang. Hal tersebut dapat kita nikmati dengan cara menjaga dan melestarikan sungai.

Mulai sekarang, hiduplah rukun dengan sungai.

dampak hutan gundul

Planet Bumi merupakan salah satu bagian yang kecil dari alam raya, alam semesta, jagat raya, kosmologi atau universe. dan Indonesia merupakan bagian yang kecil dari Planet Bumi atau dunia.
Indonesia merupakan sekumpulan pulau (lebih dari 17.000) yang terhampar di antara Benua Asia dan Australia, dan di antara Samudera Pasifik dan Hindia. Begitu unik posisi Indonesia pada permukaan Planet Bumi, tepat berada di sekitar garis khatulistiwa, garis fiktif yang membagi sama belahan bumi dengan arah horijontal.
Indonesia berada pada posisi tengah-tengahnya Planet Bumi, ditambah keberadaan hutan tropisnya, maka Indonesia berperan sebagai “paru-paru-nya” Planet Bumi. Ya, Indonesia adalah gudang oksigennya Planet Bumi. 
Beragam vegetasi menyelimuti permukaan Indonesia. Vegetasi umumnya berdaun dan memiliki klorofil atau zat hijau daun. Kontribusi klorofil terhadap kelangsungan kehidupan di Planet Bumi cukup besar. Klorofil merupakan tempat pembentukan karbohidrat (sumber makanan) dan oksigen, dengan bahan baku air (yang diambil dari dalam tanah melalui akar) dan karbodioksida (yang diambil dari atmosfir), dengan menggunakan sumber energi matahari. Keseluruh rangkaian proses disebut fotosintesis.
Pada mulanya di Planet Bumi tidak ada kehidupan, hal berlangsung sekitar 1.000 juta tahun. Bumi hanya merupa bola pijar yang sangat panas, dengan suhu atmosfir yang sangat tinggi.  Usia Bumi diperkirakan  telah mencapai 3.000 juta tahun. Sedangkan kehidupan di Bumi diperkirakan mulai berlangsung 2.000 juta tahun yang lalu. Air memegang peranan yang sangat penting pada awal kemunculan kehidupan, karena di dasar samudera mulai terbentuk mahluk sederhana dalam bentuk molekul organik yang mengandung klorofil.
Melalui klorofil terjadilah proses fotosintesis yang pertama. Kemudian seiring dengan pertambahan waktu, munculah tumbuhan berklorofil yang paling sederhana. Secara perlahan namun pasti konsentrasi karbondioksida di atmosfer terus berkurang, karena dimanfaatkan klorofil. Di sisi lainnya konsentrasi oksigen pun terus meningkat. Sehingga kondisi saat ini konsentrasi karbondioksida tinggal 0,03 persen, sedangkan oksigen 21 persen. Bandingkan dengan kondisi pada saat di Bumi belum ada kehidupan, karbondioksida mencapai 98 persen, dan oksigen sangat rendah.
Dengan makin meningkatnya kadar oksigen di atmosfir, maka terbentuklah lapisan ozon. Lapisan ozon menyelimuti Bumi sehingga sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar ultra violet – UV)  bisa dipantulkan kembali ke luar angkasa. Sinar UV berpotensi mematikan beragam kehidupan di Bumi.
Dengan makin tebalnya lapisan ozon, maka keberadaan mahluk hidup pun berangsur-angsur berkembang, tidak hanya di dasar samudera, tetapi juga di seluruh kedalaman perairan, di permukaan laut, daratan sampai ke puncak pegunungan. Jenis mahluk hidup pun makin beragam, bermula dari yang ber-sel tunggal sampai yang ber-sel majemuk. Tidak hanya flora saja tetapi juga fauna, mulai menyebar ke seluruh pelosok permukaan Bumi.
Adanya aktivitas klorofil yang ada pada daun tumbuhan, menyebabkan permukaan Bumi menjadi kaya oksigen dan suhu Bumi menjadi rata-rata 13 derajat Celsius. Bayangkan, jika tidak ada tumbuhan maka oksigen menjadi sangat sedikit, dan suhu permukaan Bumi akan mencapai sekitar 290 derajat Celsius. Tidak ada mahluk hidup yang akan bertahan pada suhu setinggi itu, sebagaimana di Planet Venus yang memiliki suhu rata-rata 477 derajat Celsius.
Dari paparan tersebut, menjadi lebih dipahami betapa pentingnya peran tumbuh-timbuhan dalam keberlangsungan kehidupan di Bumi.
Ternyata tanah Indonesia merupakan tanah yang paling subur, terdapat beragan tumbuhan atau vegetasi, tersebar mulai dari dasar samudera, kedalaman lautan, permukaan laut, pesisir, muara, daratan rendah, dataran menengah, dataran tinggi dampai pegunungan.  Tumbuhan, vegetasi atau flora sebagai gudangnya klorofil lebih terkonsentrasi di ekosistem hutan.
Hutan merupakan tempat berhimpunnya beragam flora dan fauna. Hutan tropis memiliki keistimewaan tersendiri, antara lain terdapat cadangan plasma nuftah atau keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Sebenarnya luas daratan Indonesia hanya 1,3 persen dari luas daratan di permukaan bumi. Namun hutan Indonesia menyimpan  11 persen spesies tumbuhan yang terdapat di permukaan bumi. Di hutan Indonesia pun terdapat 10 persen spesies mamalia dan 16 persen spesies burung.
Namun ternyata hutan di Indonesia terus ditelanjangi. Jika pada tahun 1950, sekitar 84 persen atau sekitar 162 juta hektar  daratan Indonesia diselimuti hutan, kemudian tahun 1985 luas tutupan hutan tinggal sekitar 119 juta hektar (menyusut 27 persen disbanding tahun 1950). Kemudian pada tahun 1997, World Resource Institue (WRI) mengungkapkan, bahwa Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen.
Departemen Kehutanan Republik Indonesia telah membuat  Penetapan Kawasan Hutan, tahun  1950 mencapai 162,0 juta hektar;  1992 mencapai 118,7 juta hektar;  2003 sekitar 110,0 juta hektar; dan  2005 tersisa 93,9 juta. Tahun 2011 ini tentu lebih menyusut lagi.
Hutan asli atau hutan “perawan” di Indonesia memang keberadaannya makin langka. Eksploitasi dan penjarahan hutan terjadi setiap saat, baik secara formal maupun nonformal, legal maupun illegal, serentak terjadi di seluruh pulau.
Sebenarnya “menelanjangi” hutan adalah langkah bunuh diri. Tanpa disadarinya manusia telah membuat kehancuran secara permanen, tidak hanya untuk ekosistem Indonesia, tetapi untuk seluruh Bumi. Penyusutan luas hutan sama artinya dengan mengurangi jumlah vegetasi secara sistematis. Dengan demikian gudang-gudang klorofil yang memproduksi oksigen dan menyerap karbondoiksida itu mulai dilenyapkan.
Ancaman serius pul sulit terhindarkan, kelangkaan oksigen dan pemanasan global. Saat itu makin terasa, bahwa suhu di sekitar tempat tinggal kita, di mana pun, umumnya meningkat. Ya, lapisan ozon yang proses pembentukannya mencapai ribuan juta tahun, terus mengalami kebocoran. Tak lain akibat sikap dan perilaku milyaran manusia, yang masih boros dalam memanfaatkan sumberdaya alam, termasuk hutan dan energy fosil.

sejarah banjir di jakarta

Indonesia berduka, Kota Jakarta menjadi sorotan publik akibat bencana banjir yang menimpa sejak seminggu lalu. Kabar duka ini menjadi cobaan bagi Indonesia, terutama bagi masyarakat Jakarta dan juga Pemerintahan DKI Jakarta yang baru saja berjalan 100 hari. Pentingnya kita sebagai warga negara mengetahui dan dapat berpartisipasi untuk membangkitkan kembali kota Jakarta. Sebelumnya dibawah ini akan dibahas mengenai geografi, iklim dan sejarah Kota Jakarta.
Geografi dan Iklim Kota Jakarta
Jakarta merupakan wilayah dataran rendah seluas 650 km2. Ketinggian tanah diukur di titik nol Tanjung Priok dari pantai sampai ke kanal banjir berkisar antara 0 m - 10 m di atas permukaan laut. Sedangkan dari batas paling selatan wilayah DKI kanal banjir berkisar antara 5 m - 50 m di atas permukaan laut. Daerah pantai merupakan daerah rawa atau daerah yang selalu tergenang air pada musim hujan. Di daerah bagian selatan kanal banjir terdapat perbukitan rendah dengan ketinggian antara 50 m sampai 75 m.
Dari aspek iklim, wilayah DKI Jakarta termasuk tipe iklim C dan D yang menurut klasifikasi iklim Schmit Ferguson dengan curah hujan rata-rata sepanjang tahun 2000 mm. Wilayah DKI Jakarta termasuk daerah tropis beriklim panas dengan suhu rata-rata per tahun 27OC dengan kelembaban antara 80% - 90% . Temperatur tahunan maksimum 32OC dan minimum 22OC. Kecepatan angin rata-rata 11,2 km/jam.
Sejarah Kota Jakarta
Jakarta dibangun oleh Jan Pieters Z. Coen di awal abad ke 17 dengan konsep kota air (waterfront city) yang rentan mengalami banjir bahkan sejak awal didirikan. Menurut catatan sejarah, Jakarta mengalami bencana banjir sejak tahun 1621. Salah satu bencana banjir terparah terjadi pada bulan Februari 1918. Saat itu hampir sebagian besar wilayah terendam air. Daerah yang terparah adalah Gunung Sahari, Kampung Tambora, Suteng, Kampung Klenteng akibat jebolnya bendungan Kali Grogol.
Perlu kita sadari bahwa Jakarta identik dengan julukan kota banjir karena bencana ini menjadi agenda pada setiap tahun. Sampai tahun ini, belum ada penanggulangan dan pengelolaan untuk mengatasinya. Alangkah baiknya kita melakukan pencegahan daripada melakukan penanganan pasca banjir. Pertama-tama, mari menganalisis penyebab dari agenda tahunan Kota Jakarta.
11. Kepadatan Penduduk
Jakarta sebagai ibukota menjadi sebuah kota impian dan kota tujuan urbanisasi. Walaupun pada kenyataannya lapangan pekerjaan di Jakarta tidak sebanding dengan peminatnya. Hal ini mengakibatkan semakin padatnya penduduk di Jakarta.
2. . Sampah
Berkaitan dengan kepadatan penduduk. Masalah sampah yang setiap harinya akan bertambah tidak didukung dengan adanya pengelolaan sampah yang efektif. Sehingga sampah semakin menumpuk. Terutama pada kebiasaan masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan membuangnya ke sungai. Tentunya, ketika hujan akan mengakibatkan sampah meluap.
3. . Curah hujan yang tinggi
Seiring dengan kemajuan globalisasi, kebiasaan masyarakat yang semakin bersifat modern dapat menyumbang terjadinya global warming yang mengakibatkan perubahan iklim dan cuaca. Salah satunya adalah curah hujan yang tinggi dan musim yang tidak menentu.
4. . Pecahnya Bendungan Sungai dan Serapan Air yang buruk
Akibat faktor-faktor diatas, bandungan sungai tidak dapat menampung air yang lebih banyak sehingga air dapat meluap dan mengakibatkan pecahnya bendungan sungai. Selain itu, karena perkembangan infrastruktur dan industri yang tidak terkendali mengakibatkan hilangnya cadangan air di Jakarta dan hilangnya lahan untuk serapan air hujan.
5. Saluran air yang belum sesuai kebutuhan
Belum adanya pengembangan saluran air yang mengalirkan air kembali ke laut yang mengakibatkan air melimpah di sungai kota.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penyebab dari banjir Jakarta tidak bisa dititik beratkan akibat aspek geografi dan curah hujan Kota Jakarta saja. Tetapi, hal-hal yang bersifat intervensi dari manusia yang dapat mengganggu alam merupakan faktor besar yang dapat menyebabkan bencana banjir
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rum : 41)

tanah di P. jawa menurun

VIVAnews - Badan Geologi Departemen Energi Sumber Daya Manusia (ESDM) menyatakan, akibat pengambilan air tanah berlebihan, permukaan tanah di beberapa wilayah di Pulau Jawa setiap tahunnya mengalami penurunan antara 5-9 cm. Daerah tersebut yakni Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Semarang.

Kepala Pusat Lingkungan Badan Geologi ESDM Damaryanto mengatakan, berdasarkan hasil penilitian selama 40 tahun, empat daerah di Pulau Jawa terus mengalami penurunan sehingga menimbulkan cekungan tanah.

"Bila musim hujan tiba, daerah tersebut sangat berpotensi terjadi banjir karena datarannya semakin rendah," ujar Damaryanto usai rapat geologi di Hotel Horison, Bandung, Jumat 12 Desember 2008.

Dia menambahkan, penggunaan air tanah yang berlebihan menimbulkan pergesaran lempengen material tanah hingga menyebabkan terjadinya amblasan. Selain itu kondisi tanah diempat daerah tersebut masih muda dan kerap terjadi pemampetan secara alami.

Di Bandung penurunan tanah, diakibatkan pula adanya Danau Purba. Oleh karena itu untuk mengantisipasi meluasnya  penurunan tanah, kini pihaknya tengah gencar melakukan pembatasan penggunaan air tanah secara besar-besaran.

"Kami melarang siapapun untuk mengambil air dibawah 200 meter dari sumber mata air," katanya. Bahkan penggunaan air tanah dengan menggunakan sumur bor, hanya diperbolehkan 100 meter kubik perharinya. meeting biologi di hotel horison.

antisipasi gempa bumi

PPC Indonesia


Sebelum Terjadi Gempabumi


A. Kunci Utama adalah..


Mengenali apa yang disebut gempabumi Pastikan bahwa struktur dan letak rumah Anda dapat terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh gempabumi (longsor, liquefaction
, dll.) Mengevaluasi dan merenovasi ulang struktur bangunan Anda agar terhindar dari bahaya gempabumi.
[imagetag]




B. Kenali Lingkungan Tempat Anda Bekerja Atau Belajar


Perhatikan letak pintu, lift serta tangga darurat, apabila terjadi gempabumi, sudah mengetahui tempat paling aman untuk berlindung.


Belajar melakukan P3K


Belajar menggunakan alat pemadam kebakaran


Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi pada saat terjadi gempabumi.
[imagetag]

C. Persiapan Rutin pada tempat Anda bekerja dan tinggal


Perabotan (lemari, cabinet, dll) diatur menempel pada dinding (dipaku, diikat, dll) untuk menghindari jatuh, roboh, bergeser pada saat terjadi gempabumi.


Simpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang tidak mudah pecah agar terhindar dari kebakaran.


Selalu mematikan air, gas dan listrik apabila tidak sedang digunakan.
[imagetag]

D. Penyebab celaka yang paling banyak pada saat gempabumi adalah akibat kejatuhan material


Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah


Cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat gempabumi terjadi (misalnya lampu dll)
[imagetag]

E. Alat yang harus ada di setiap tempat


Kotak P3K

Senter/lampu battery

Radio

Makanan suplemen dan air
[imagetag]





Saat Terjadi Gempabumi


A. Jika Anda berada di dalam bangunan


Lindungi badan dan kepala Anda dari reruntuhan bangunan dengan bersembunyi di bawah meja dll.


Cari tempat yang paling aman dari reruntuhan dan goncangan


Lari ke luar apabila masih dapat dilakukan.

Dan usahakan agar jangan panik.
[imagetag]

B. Jika berada di luar bangunan atau area terbuka


Menghindar dari bangunan yang ada di sekitar Anda seperti gedung, tiang listrik, pohon, dll

Perhatikan tempat Anda berpijak, hindari apabila terjadi rekahan tanah.
[imagetag]

C. Jika Anda sedang mengendarai mobil


Keluar, turun dan menjauh dari mobil hindari jika terjadi pergeseran atau kebakaran. Lakukan point B.
[imagetag]

D. Jika Anda tinggal atau berada di pantai


Jauhi pantai untuk menghindari bahaya tsunami. Usahakan lari ke tempat yang lebih tinggi,seperti ke bukit atau gunung.
[imagetag]

E. Jika Anda tinggal di daerah pegunungan 


Apabila terjadi gempabumi, hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
[imagetag]






Setelah Terjadi Gempabumi

A. Jika Anda berada di dalam bangunan


Keluar dari bangunan tersebut dengan tertib.


Jangan menggunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa. [tangga emergency]


Periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K.


Telepon atau mintalah pertolongan apabila terjadi luka parah pada Anda atau sekitar Anda.
[imagetag]

B. Periksa lingkungan sekitar Anda 


Periksa apabila terjadi kebakaran.


Periksa apabila terjadi kebocoran gas.


Periksa apabila terjadi hubungan arus pendek listrik.


Periksa aliran dan pipa air.


Periksa apabila ada hal-hal yang membahayakan (mematikan listrik, tidak menyalakan api, dll)
[imagetag]

C. Jangan mamasuki bangunan yang sudah terkena gempa 


karena kemungkinan masih terdapat reruntuhan.
[imagetag]

D. Jangan berjalan di sekitar bangunan,atau tiang listrik


Karena kemungkinan terjadi bahaya susulan masih ada.
[imagetag]

E. Mendengarkan informasi.


Dengarkan informasi mengenai gempabumi dari radio (apabila terjadi gempa susulan).


Jangan mudah terpancing oleh isu atau berita yang tidak jelas sumbernya.
[imagetag]

F. Jangan panik dan jangan lupa selalu berdo'a kepada Tuhan YME demi keamanan dan keselamatan kita semuanya.

pemanasan Global

Pemanasan global (Inggris: global warming) adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca pada masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrem,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi pada masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca


Penyebab pemanasan global

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan suhu rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari suhunya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Efek umpan balik

Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembapan relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat).[3] Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[3]
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.[4] Ketika suhu global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air di bawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.[5]

Variasi Matahari

Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.[6] Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,[7] yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.[8][9]
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuwan dari Duke University memperkirakan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan suhu rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.[10] Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat perkiraan berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.[11] Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuwan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan" dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.[12][13] Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.[14]